Sunday, October 12, 2008

puisi: Sambut Aku

SAMBUT AKU..
Dia perempuan yang sangat ku kenal..
Ku kenal dengan baik, meski ia tak pernah berujar tentang dirinya..
Ku habiskan seluruh waktuku untuk mengenalnya
hingga aku.. Aku sendiri tak tahu siapa diriku terdalam..

Dia perempuan yang kuat.. perempuan yang tegar..
Ia terlihat rapuh tapi dirinya terdalam adalah sosok yang tangguh..
Dia membuka mataku,menggugah pandanganku
akan arti kasih sayang...
“Bukan rupa bung, tapi hati, karna cinta tidak mengenal rupa, ia hanya mengenal hati, rupa-rupa hati.. Kalau kamu ingin mengenal wanita,kenalilah hatinya, kenalkan juga hatimu padanya, biarkan hati kalian yang bicara...”

Dia mengajariku ketulusan,
“Cinta itu bukan hal yang bersyarat, terima saja apa adanya, apa rupa dan bentuknya ketika hati kalian sudah saling bicara.. Rupa itu bonus, sedangkan hati adalah hadiah utama, hadiah utama tentunya lebih istimewa dari bonusnya. Jadi mau milih yg mana?”

Dia mengajariku untuk berjuang,
“Jangan menyerah, maju terus pantang mundur... Kalau kamu lelah, berhenti sejenak dan biarkan dia menjauh, setelah kuat berlarilah lagi mengejarnya..”

Dia mengajariku tersenyum pada saat terendah,
seperti yang selalu ia lakukan, tersenyum.. senyum tulus penuh pengertian..
“Obati dulu lukamu ketika kamu terjatuh, jangan menangis karena cinta bukan untuk ditangisi.. Bersabar dan tersenyumlah meski terasa pahit, karena rasa pahit itu pasti akan berganti semanis gula.. Coba saja..”

Tapi dia menipu aku.. Menipuku dengan kelembutan tuturnya, dengan kekanakan senyumnya, dengan tingkah cerianya...
Dia bisa sekuat topan dan setegar karang..
“Ah kamu bisa saja.. Untuk apa pamer kalo kita ini tegar, biar saja orang menilai kita lemah, yang pasti dalam diri kita hanya kita yang tahu. Diri terdalam kita adalah rahasia besar yang hanya kita yang boleh tahu, setiap orang punya rahasia kan...”

Ah... kamu sosok yang unik.. Ada banyak perempuan dengan berbagai rupa disekitarku, berkelibasan, datang dan pergi, rupa-rupa muka, rupa-rupa sikap, rupa-rupa hati...
Namun, tak ada satupun rupa hati yang sepertimu, yang mampu menyentuh hatiku dengan ketulusan dan kepolosan sikapmu..
“Yee.. Kamu ini.. Banyak perempuan disekitarmu yang lebih-lebih dari seorang AKU.. Aku harap perempuan secantik mawar, sebaik dan selembut ibumu yang akan jadi pendampingmu kelak, amien...”

Tapi tidak..
Aku tak ingin rupa-rupa wajah yang lain, rupa-rupa hati yang lain..
Karena hatiku telah tertarik pada rupa hatimu dan aku tak menginginkan yang lain..
Apapun.. aku akan tetap disini menanti sampai saat untukku tiba..
Saat dimana kau akan menoleh padaku, melihatku dan berkata..
“Sambut Aku..”

jogja, tengah oktober '08
-farida choirunisa-

(ps.puisi ini terinspirasi dari curhatan seorang teman pria penulis dengan wanita yang didambakannya, bukan pengalaman pribadi penulis dengan seorang wanita:p)

3 comments:

shuzzon said...

puisinya bagus skali....

shuzzon said...

klo boleh tau alamatnya di mana klo ada waktu saya mampir,nama gw topan panggil aja opang,anda kerja atau masih kuliah

shuzzon said...

apa kamu masih punya buku sastra karya soetardji yang lama/pernah ikut lomba puisi internasional di ulang tahun soetardji di TIM