Thursday, December 4, 2008

puisi: Terperangkap Senja

TERPERANGKAP SENJA

terperangkap senja

terkungkung lara,

meretas jiwa

melarik makna

senja tak lagi ramah

ia memerangkapku dalam kegamangan

aku tak bisa berkutik

aku tak bisa meraba hatiku sendiri

tak bisa bersentuhan dengan jiwaku

dia melumatku tanpa ampun...

aku mencoba beranjak

berlari dengan setengah jiwaku..

tetapi nihil..

senja tetap mencoba menjamahku

dia mengungkungku dalam dilema tak berkesudahan

jogja, awal November 2008

sha

Sunday, October 19, 2008

Perspective

Perspective, pencil on paper..

a sketch about hidden life..
what u see outside is not same as what it is inside..

Monday, October 13, 2008

crowned tree climbing

-crowned tree climbing, water color pencil on paper..

Ambisi berebut mahkota "kedigdayaan" hanya di pandang sebelah mata oleh si penguasa" berhati tak utuh" yang selalu memandang sebelah mata..
Hitam putih kehidupan dtunjukan ketika siapa menguasai siapa dan siapa menguasai apa, sayangnya si pemegang kunci kuasa itu terkadang adalah penguasa "berhati tak utuh"

Crash

-"Crash" color pencil on paper..

Masyarakat modern yang tinggal di kota sibuk dan selalu berpacu dengan waktu terkadang hanya mementingkan urusannya sendiri lantas mengabaikan keselamatan jiwa pemakai jalan yang lain..
Ketika terjadi "accident" manusia-manusia apatis yang sibuk berlalu lalang itu kemudian seakan "menyadarkan diri" mereka sendiri, berteriak mengecam, mengumpat, prihatin atau bahkan main hakim sendiri pada si "salah" tanpa mereka menyadari hal lain, bahwa mereka juga menjadi bagian dari peristiwa itu..

Sunday, October 12, 2008

Hallo Bloggers

Bagi beberapa bloggers yg mampir ke blog saya mungkin agak merasa aneh dengan tema tulisan saya, baik cerpen maupun puisi yang melulu bertema kasih sayang ( saya agak enggan menyebutnya "percintaan" karena terdengar sedikit filosofis ).
Ada banyak tulisan saya yg bertema lain sebenarnya, namun kebetulan baru ini yg berhasil saya "temukan kembali" setelah sekian lama menghilang, maen petak umpet di hardisk komputer saya. Ada banyak ide berkelebatan dan berlarian dalam imaji saya yang kalau saya turuti saat ini juga akan mengalir deras seperti bah dan bisa-bisa membuat saya tertahan di depan komputer selama berjam-jam, siang dan malam. Ada banyak ide bermunculan seperti jamur di musim hujan yang siap untuk di tuangkan dalam postingan-postingan terbaru saya. Maka untuk kualitas dan perbaikan tulisan-tulisan saya ke depan dan demi kemajuan blog "whisper of silence" ini, jangan lupa untuk kasih comment ya...
"Let's start whisper..."

Creative Writing

Tips creative Writing??
Simak ini..

"Menulis dan terus menulis.. sampai kau kehabisan ide"

Tips simple dari seorang sahabat:)
Semoga bermanfaat:)

puisi: Sambut Aku

SAMBUT AKU..
Dia perempuan yang sangat ku kenal..
Ku kenal dengan baik, meski ia tak pernah berujar tentang dirinya..
Ku habiskan seluruh waktuku untuk mengenalnya
hingga aku.. Aku sendiri tak tahu siapa diriku terdalam..

Dia perempuan yang kuat.. perempuan yang tegar..
Ia terlihat rapuh tapi dirinya terdalam adalah sosok yang tangguh..
Dia membuka mataku,menggugah pandanganku
akan arti kasih sayang...
“Bukan rupa bung, tapi hati, karna cinta tidak mengenal rupa, ia hanya mengenal hati, rupa-rupa hati.. Kalau kamu ingin mengenal wanita,kenalilah hatinya, kenalkan juga hatimu padanya, biarkan hati kalian yang bicara...”

Dia mengajariku ketulusan,
“Cinta itu bukan hal yang bersyarat, terima saja apa adanya, apa rupa dan bentuknya ketika hati kalian sudah saling bicara.. Rupa itu bonus, sedangkan hati adalah hadiah utama, hadiah utama tentunya lebih istimewa dari bonusnya. Jadi mau milih yg mana?”

Dia mengajariku untuk berjuang,
“Jangan menyerah, maju terus pantang mundur... Kalau kamu lelah, berhenti sejenak dan biarkan dia menjauh, setelah kuat berlarilah lagi mengejarnya..”

Dia mengajariku tersenyum pada saat terendah,
seperti yang selalu ia lakukan, tersenyum.. senyum tulus penuh pengertian..
“Obati dulu lukamu ketika kamu terjatuh, jangan menangis karena cinta bukan untuk ditangisi.. Bersabar dan tersenyumlah meski terasa pahit, karena rasa pahit itu pasti akan berganti semanis gula.. Coba saja..”

Tapi dia menipu aku.. Menipuku dengan kelembutan tuturnya, dengan kekanakan senyumnya, dengan tingkah cerianya...
Dia bisa sekuat topan dan setegar karang..
“Ah kamu bisa saja.. Untuk apa pamer kalo kita ini tegar, biar saja orang menilai kita lemah, yang pasti dalam diri kita hanya kita yang tahu. Diri terdalam kita adalah rahasia besar yang hanya kita yang boleh tahu, setiap orang punya rahasia kan...”

Ah... kamu sosok yang unik.. Ada banyak perempuan dengan berbagai rupa disekitarku, berkelibasan, datang dan pergi, rupa-rupa muka, rupa-rupa sikap, rupa-rupa hati...
Namun, tak ada satupun rupa hati yang sepertimu, yang mampu menyentuh hatiku dengan ketulusan dan kepolosan sikapmu..
“Yee.. Kamu ini.. Banyak perempuan disekitarmu yang lebih-lebih dari seorang AKU.. Aku harap perempuan secantik mawar, sebaik dan selembut ibumu yang akan jadi pendampingmu kelak, amien...”

Tapi tidak..
Aku tak ingin rupa-rupa wajah yang lain, rupa-rupa hati yang lain..
Karena hatiku telah tertarik pada rupa hatimu dan aku tak menginginkan yang lain..
Apapun.. aku akan tetap disini menanti sampai saat untukku tiba..
Saat dimana kau akan menoleh padaku, melihatku dan berkata..
“Sambut Aku..”

jogja, tengah oktober '08
-farida choirunisa-

(ps.puisi ini terinspirasi dari curhatan seorang teman pria penulis dengan wanita yang didambakannya, bukan pengalaman pribadi penulis dengan seorang wanita:p)

cerpen: spagetti cinta Rio

“SPAGETTI CINTA RIO”
oleh: Farida Choirunisa
Cowo punya seribu satu cara untuk memikat lawan jenis, yang paling umum di lakuin sih merayu dengan kata-kata selangit sampe si korban (cewe) klepek-klepek. Tapi ada juga yang milih untuk memikat cewe dengan cara lain yang jarang dipikirkan oleh cowo lain.. memikat cewe dengan MASAKAN. Adalah Rio Pradana, seorang cowo yang bisa dibilang salah satu cowo populer di sekolahnya,kapten tim basket sekolah merangkap ketua mading. Sebenernya tampangnya biasa-biasa aja sih namun sikapnya yang hangat dan mudah bergaul membuatnya gampang mengambil hati siapa aja. Karena dibesarkan oleh mamanya (papanya udah meninggal sewaktu Rio masih balita), Rio tumbuh menjadi anak yang mandiri dan serba bisa, mule dari benerin genteng bocor, bersihin rumah, masak, sampe benerin radio rusak (tukang reparasi elektronik kalee). Konon waktu kecil Rio ga pernah mau ditinggal sang mama barang semenit aja, kemana mamanya pergi dia selalu ngikut (please...). Begitu pula kalo mamanya lagi ribet di dapur,ini anak jg ikutan absen, nungguin nyokapnya aduk-aduk adonan kue ato sekedar rebus air. Ada satu jenis makanan yang mendarah daging dan jadi favorit Rio sejak kecil, SPAGETTI. Saking tergila-gilanya sama makanan satu ini, Rio berencana masuk sekolah khusus koki selepas SMU guna meneruskan obsesinya untuk menciptakan jenis-jenis pasta spagetti yang baru (maksa banget deh..). Dengan kondisinya yang seperti itu, pribadinya yang menyenangkan dan ditunjang dengan kepiwaiannya dalam hal mengolah spagetti jadilah dia cowo yang cukup di gila-gilai oleh cewe-cewe di sekolahnya.
BRAAAKKK!!!
“Sorry..sorry.. gue telat..”, ucap Rio diantara nafasnya yg ngos-ngosan kaya' abis lari marathon 100km. Seisi ruangan memperhatikan cowo yang tak pernah ketinggalan memakai vest hitamnya itu kalo ke sekolah. Bantingan pintu yang cukup keras tadi cukup pula untuk mengagetkan Revi dan Dion yang lagi bengong nungguin makhluk tengil satu itu.
“Alah.. telat lagi telat lagi.. kalo soal kencan ma cewe-cewe aja lo selalu on time, giliran brainstorming mading selalu telat, payah..”, celetuk Revi yang menjabat sebagai sekretaris mading ga terima ngeliat kelakuan ketuanya itu.
“Hehe.. gue kan cuma telat bentar bu.. ini juga gara-gara...”, sangkal Rio yang keburu dipotong sama Dion.
“Gara-gara VW lo mogok lagi?? Hmm,same old same old.. Lagian cuma telat bentar nenek lo kemping?? Lo hampir telat sejam tau!”
“Hee.. sorry man...”, sahut Rio sambil nyengir kuda (kuda aja kalah cakep kalo nyengir sama nih anak).
Revi dan Dion cuma bisa geleng2 kepala liat tingkah ketua mereka yang sangat-sangat tidak profesional itu (beugh..kaya' apa aja seh..). Pada saat yg bersamaan pintu ruang OSIS diketuk..
“Sorry.. ini ruang OSIS apa mading yah?”, ucap sesosok makhluk manis yang berdiri kebingungan di dekat pintu masuk.
“Kamu sapa? Kayanya kita belum pernah liat kamu deh di sekolah ini..”, sambut Revi yang diidemin sama Dion. Sedangkan Rio sibuk mengamati cewe manis bertubuh mungil itu lekat-lekat, sinyal di kepalanya berbunyi “Ada target,ada target”, hebatnya sinyal paten di kepala Rio ini kuatnya ngalahin sinyal tower BTS provider-provider seluler di Indonesia (ga tau kalo di negara lain,ada ga makhluk semacam ini yang punya sinyal tuing-tuing seketika kalo ngeliat cewe bening didepan mata). Cewe itu tersenyum kecil sambil melangkah masuk.
“Kenalin aku Chita..”, ucap cewe itu mengenalkan diri sambil menyalami satu-satu para penghuni di ruangan itu.
“Aku pindahan dari SMU 31 Bandung, aku di kelas 2A”, lanjutnya lagi.
“Ohh.. trus tadi kamu nyari ruang OSIS ya?”, tanya Revi
“Emm.. Sebenernya bukan sih,aku lagi nyari ruang mading, tapi ditunjukinnya ke ruang ini, padahal aku baca di depan tadi ini ruangan OSIS.. Aku jadi bingung..”
“Ya bener kalo kamu nyari ruang mading emang disini tapi karena sekolah kita miskin bangunan karena baru ada renovasi jadilah ruang OSIS jadi ruang serba guna, buat ruang mading juga.. Kenapa kok kesini?”, jelas Dion panjang lebar.
“Ohh.. kebetulan sekali kalo gitu, apa kalian pengurus mading sekolah? Aku kesini karena pengen daftar jadi anggota mading..”, ucap cewe itu ceria.
“Kenapa km tertarik ikutan mading?”, tanya Revi menyelidik.
“Aku udah lama tertarik sama jurnalisme, aku pikir ga ada salahnya aku mulai dari mading sekolah, di sekolah ku yg dulu aku juga pengurus mading..”, jelas cewe itu bersemangat. Hening sesaat.. Dion dan Revi saling melirik penuh makna, kemudian keduanya menoleh pada si ketua yang dari tadi diem seribu kata, entah karena nervous liat makhluk manis itu ato karena lagi nunggu timing yang tepat buat melancarkan serangan pada targetnya (perang kalee..). Yang ditoleh cuma cengengesan kaya' orang menang lotre.
“Emm.. begini ya.. Chita.. sebenernya kita..”, ucap Revi kemudian yang langsung dipotong seketika dan semena-mena oleh Rio..
“Ehemm.. Sebenernya kita memang lagi nyari anggota baru buat mading sekolah biar bisa lebih berkembang gitu.. Jadi kamu bisa bergabung sama kita..”, ujar Rio dengan pedenya. Dion dan Revi melongo bingung kaya' orang keselek biji salak.
“Waah.. Jadi aku diterima kak jadi anggota baru mading sekolah??”
“Yup!! Diterima dengan senang hati.. Ayo buktikan kamu bisa berkarya lewat mading”, sahut Rio menyemangati.
“Waahh.. makasih banget ya kak.. aku janji akan kasih yg terbaik buat mading kita.. makasihh.. permisi..”, janji gadis itu sambil melangkah ringan meninggalkan ruang OSIS dengan 2 manusia yg terbengong-bengong ga percaya di dalamnya.
“Kok lo gitu sih??”, protes Revi kemudian setelah tinggal mereka bertiga yang ada di ruangan itu.
“Iya, lo kok ngambil keputusan sepihak gitu bro.. Kita kan udah bikin komitmen untuk meniadakan perekrutan anggota baru sementara waktu. Lagian,dia kan anak baru, kita blom tau bener orangnya seperti apa, qualified ga dia untuk bergabung dalam tim mading dan kerjasama bareng kita..”, timpal Dion berargumen.
“Justru itu teman-teman, kita harus ngasih kesempatan untuk orang-orang seperti Chita itu yang punya semangat tinggi buat belajar majuin mading sekolah. Darimana kita tau dia qualified ga kalo kita ga ngasih kesempatan dia untuk membuktikannya”, jawab Rio penuh keyakinan (keyakinan kalo dia bisa deketin cewe tadi sebagai korban selanjutnya maksudnya, hehe..).
“Tapi Rio masalahnya...”, ucap Revi yang buru-buru dipotong sama Rio.
“Udahlah.. kalian percaya aja sama keputusan gue.. Udah ya gue cabut dulu, mo latihan basket, pertemuan selanjutnya bahas mading minggu depan di rumah gue aja, tar gue suguhin hidangan spesial deh,spagetti bikinan gue,hehe..”
Dan kali ini si Rio sukses membuat 2 temannya yang tadinya melongo kaya' keselek biji salak, sekarang malah lebih mirip keselek biji durian bangkok. Terus terang sebagai ketua dia merupakan sosok yang cukup kepedean,hehe.
Sabtu siang.. Lapangan basket SMU Merdeka ramai oleh riuh dan sorak sorai penonton yang menyaksikan pertandingan basket class meeting yang diadakan tiap sebulan sekali. Hari ini final mempertemukan kelas 3IPA2 dengan kelas 2A, yang ternyata sukses dimenangkan oleh tim basket kelas 3IPA2 yang digawangi oleh kapten basket kebanggaan SMU Merdeka sendiri, Rio Pradana.
“Congrats bro.. Untuk kesekian kalinya lo sukses bawa kelas kita menang satu point lagi di lomba antar kelas bulanan kali ini..”, ucap Dion serta merta menghampiri Rio yang masih ngos-ngosan kehabisan napas setelah bertempur habis-habisan tadi (ceileh.. uda kaya' pejuang 45 aje..).
“Ya ya.. lo ga usah ngomong gitu juga gue udah tau kok kalo gue berjasa besar bagi kelas 3IPA2 kita tercinta.. i'm the hero!! hahahaha...”, sahut Rio tanpa dosa, yang langsung disambut dengan cengiran eneg Dion. Untung saja manusia satu ini udah kebal sama segala bentuk tingkah polah sobatnya yg kenarsisannya sudah sangat akut ini. “Coba lo bukan Rio Pradana, temen gue semenjak orok, uda gue ceburin empang dari tadi”, batin Dion sebel.
“Kak Rio.. selamat ya.. kakak tadi hebat banget loh.. aku ga nyangka kakak bisa slam dunk.. keren!!”, ucap salah satu cewe anak kelas satu bersama satu rombongan genk nya menghampiri Rio yang hendak beranjak dari lapangan basket.
“Iya iya.. makasih ya..”, sahut Rio ramah meskipun tanpa menoleh ke si empunya suara tadi.
“Hehh! Ga sopan banget lo tadi, lo ga liat siapa yang nyapa lo tadi?”, protes Dion sambil mengimbangi langkah Rio yang buru-buru menuju kantin belakang, kelaperan dan kehausan.
“Gue tau kok.. Tadi itu Cherryl and the gank kan? Anak kelas 1C yang sering dijulukin miss pink itu kan?”, ujar Rio santai.
Dion terhenyak kaget.. Busyettt..kalo ibarat komputer, nih anak punya memory yang cukup gede khusus buat menyimpan data-data smua cewe di sekolah ini.
Kantin siang itu bejubel dengan manusia-manusia yang kelaparan, uda kaya' pasar kaget aja.. Sejenak Rio dan Dion kelabakan nyari tempat kosong buat mereka menikmati soto pak Min yang maknyuss itu. Kemudian pandangan Rio terpaku pada sesosok makhluk mungil yang lagi duduk sendirian ditemenin orange juice dihadapannya.
“Chita.. bole kita gabung?”, sapa Rio renyah pada cewe itu.
“Eh kakak-kakak mading.. boleh-boleh.. silakan duduk kak..”, sambutnya mempersilakan.
“Kamu kok sendirian aja sih?”, tanya Rio ingin tau.
“Iya nih.. Habis aku kan belum begitu kenal sama anak-anak disini..”
“Eh iya.. kak Rio selamat ya tim basket 3IPA2 menang tadi”,sambung Chita lagi sembari nyeruput orange juice nya.
“Makasih.. tapi ga salah nih.. Harusnya kan kamu dukung kelas kamu 2A”, sahut Rio sok wise, biasa usaha cari perhatian target.
“Hehe.. habis permainan tim kelas kakak tadi emang bagus banget sih, pake slam dunk pula, ga salah deh kepilih jadi kapten tim basket sekolah”, puji Chita yang bikin Rio tersipu-sipu seketika.
“Tapi kok tadi aku ga liat kamu ya..”, kata Rio sambil mengernyitkan dahi keheranan (ga mungkinlah dia ga liat makhluk bening ini menontonnya beraksi tadi,secara penglihatan dan pendengaran anak ini terkenal ultrasonic gitu loh, hehe). Chita tersenyum simpul, penuh arti...
“Kakak-kakak ga pesen makan? Bentar lagi bel masuk loh..”, ucapnya seakan mengalihkan pembicaraan. Pada saat bersamaan Dion yang merasa ga diperhatiin dan dikacangin dari tadi lama-lama empek juga jadi obat nyamuk, dia memilih beranjak dari kantin dengan muka dilipat sepuluh jelek banget kaya' orang susah buang aer besar, ngeloyor pergi meninggalkan mereka berdua.
“Woyy lo mo kemane pak?? pesenin gue soto sama es jeruk dooong!”, teriak Rio.
“Enak aja! Lo pikir gue kacung..”, sahut Dion sebel.
Sabtu sore di rumah Rio..
“Mamaaaa.... Rio pulang...”, teriak Rio begitu menapakkan kakinya di rumah tercintanya.
“Tumben udah pulang? Ga latihan hari ini?”, sahut mamanya dari dapur.
“Hari ini kan tanding class meeting ma, jadi ga ada latihan.. Pada kecapekan..”, sahut Rio sambil menghela nafas dan menjatuhkan diri ke sofa.
“Mama bikin apa?”, tanyanya lagi sambil menggonta ganti channel TV dengan malas.
“Mama masak garang asem..”,sahut mamanya singkat yang lagi sibuk nyiapin menu buat makan malem.
Rio beranjak dengan cepat menghampiri mamanya di dapur.
“Garang asem? Abang pulang ma?”
“Iya tadi pagi.. Sekarang lagi tidur tu kecapekan di jalan kaya'nya”
“Ohh.. inget pulang juga ternyata tu anak,hehehe..”, ucap Rio cengengesan yang langsung disambut pelototan mata mamanya.
Malamnya...
Suasana di rumah Rio malam itu ga seperti biasanya yang sepi karena cuma ada Rio sama mamanya. Bara kakak Rio yang kuliah di Bandung kebetulan pulang liburan, biasanya cowo satu ini paling males pulang, meskipun jarak jakarta-bandung ga begitu jauh. Konon Bara males liat kelakuan adeknya yg super duper bandel ini disamping ada sedikit rasa jealous juga sih karena disaat adeknya udah ganti cewe bolak balik, Bara belum sekalipun ngerasain punya pacar. Padahal kalo diliat dari segi fisik dia menang 2 level diatas adeknya. Entah karena blom nemu cewe yang cocok, entah karena pilih-pilih ato ... (kalo yang trakhir ini kalian kira-kira sendiri aja deh,hehe).
“Mo brapa lama lo di rumah bang?”, tanya Rio sambil sibuk menjejalkan sesendok nasi ke mulutnya.
“Blom tau, lusa gue musti dateng ke tahlilan 7 harinya adeknya sobat gue..”, sahut Bara serius, sambil menikmati garang asem favoritnya.
Uhuuk..Uhuk... Rio terbatuk-batuk mendengar statement kakaknya tadi.
“B..Bang Ragil bang?? adeknya Bang Ragil meninggal? Sejak kapan Bang Ragil punya adek? Adeknya cowo pa cewe?”, serbu Rio ingin tahu.
“Yee.. Sejak fossil Pithecanthropus ditemukan!”, sungut Bara kesel. Mulai deh nih anak cari mangsa, batinnya.
“Serius Bang.. Kok gue ga pernah tau kalo Bang Ragil punya adek?”, protes Rio ga percaya.
“Ya makanya lo jangan sibuk ngelayap flirting kanan kiri ngerayu cewe pake spagetti dong! Look around! Uda brapa lama lo jadi adek gue? Dan brapa lama lo kenal Ragil sebagai sahabat gue??”, ucap Bara gantian protes. Yang diprotes cuma cengar cengir seperti biasanya.
“Sirik yaa.. Makanya belajar dong mengerti wanita tar bisa-bisa abang jadi perjaka tua, hahahaha..”, ejek Rio dengan cueknya.
“Sialan lo ngatain gue perjaka tua, mending gue jadi perjaka tua daripada perjaka milik umum kaya' lo. Lagian ya, kalo pun tar gue jatuh cinta gue mau itu untuk yang pertama dan trakir dalam hidup gue”, argumen Bara filosofis banget.
“Alah... Bilang aja lo sirik sama gue karena ga bisa memikat cewe lewat garang asem! Hahahaha..”, ejek Rio makin menjadi-jadi yg lama-lama bikin panas telinga juga.
Bara hampir melancarkan serangan balik atas ledekan adeknya tadi kalo ga buru-buru dicegah sm mamanya.
“Ehh.. udah-udah.. Kalian ini ketemunya ga mesti aja tiap ketemu selalu berantem, mbok yang akur sekali-kali, pusing mama dengernya”, ucap mama melerai.
Bara segera tenang setelah cooling down dengan segelas air putih dingin, sedangkan adeknya masih cekikikan merasa menang.
Siangnya di sekolah...
“Di, Revi mana? Ayo kita rapat tinggal 2 hari lagi nih mading musti terbit. Oya jangan lupa cari Chita juga..”, ucap Rio bersemangat sambil mengemasi buku-buku pelajaran selepas bel istirahat ke dua berbunyi.
“Ok..”, jawab Dion singkat.
Segera mereka bergegas meninggalkan kelas 3IPA2 menuju ruang serba guna OSIS.
“Guys..!!”, teriak Revi sambil berlari kecil menyusul mereka.
“Chita mana?”, tanya Rio.
“Gue tadi ketemu dia di toilet, katanya tar mo nyusul..”, jawab Revi dengan nafas tersengal-sengal kaya' habis dikejar setan.
Ruang OSIS yang tidak seberapa besar itu penuh sesak dengan perkakas ekskul termasuk perkakas mading.
“Ni kita sharing ide aja, kita dah dapet smua bahan tulisankan, ngerjainnya tar di rumah gue ya, gue ga nyaman deh kalo musti berbagi tempat kaya' gini.. kapan sih gedung baru itu selese dibangun, jadi kita bisa punya kantor sendiri”, cerocos Rio panjang lebar yg disambut anggukan kompak kedua temannya.
“Permisi.. Sorry telat kak.. Tadi aku ke perpustakaan dulu balikin buku”, ucap Chita yang tiba-tiba udah nongol diantara mereka.
“Oya, ini essay aku kak.. tentang korelasi edukasi dan perilaku manusia dalam bersosialisasi..”, sambungnya lagi sambil menyerahkan selembar kertas ukuran kuarto pada Revi.
“Ok.. Makasih ya kamu ngumpulinnya tepat waktu banget”, ucap Revi.
“Echita Kahayangan Putri??”, tanya Revi lagi, membaca nama yang tertera di kertas tadi. Cewe itu mengangguk mantap.
“Nama lo bagus juga yah..”, puji Revi disambut senyum kecil penuh makna oleh cewe itu. “Makasih..”, ujarnya .
“Nah hari ini cukup sekian tar disambung lagi di rumah gue ya..”, ujar Rio mengakhiri pertemuan mereka siang itu.
“Di ru.. rumah kak Rio?”, tanya Chita gagap.
“Iya kenapa? Nanti aku bikinin spagetti spesial buat kamu sebagai tanda selamat bergabung bersama kami,hehehe”, sahut Rio terkekeh. Revi dan Dion yang mendengar rayuan itu untuk kesekian kalinya, merasa ingin muntah pula untuk yang kesekian kalinya.
“Basi...”, bisik Revi pada Dion.
Sejenak cewe itu kliatan bingung.. Dan Rio sebagai seorang perayu ulung cepat tanggap dengan situasi itu.
“Oiya.. kamu blom tau alamat rumahku ya.. Jangan kuatir tar kita bareng aja, atau kalo ga aku bisa jemput kamu kok..”, saran Rio yang tentu saja sudah sangat diperhitungkan, ini merupakan tehnik kamuflase untuk mengetahui tempat tinggal sang target.
“Mmm.. sepertinya aku ga bisa ikut kak...”, ucap Chita sedih.
“Kenapa?”
“Besok di rumah ada acara keluarga, hari ini aku harus bantuin mama untuk nyiapin segala sesuatunya...”, terang Chita sungguh-sungguh.
“Oh gitu ya... Ya udah kalo gitu ga pa-pa kamu ga ikut, yang penting kamu uda nyumbangin ide dan tulisan buat mading kita, itu lebih penting. Lagipula tar acaranya cuma nempel-nempelin tulisan aja, finishing...”, sahut Rio dengan nada sedikit kecewa.
“Makasih banget ya kak... Aku duluan ya...”, ucap Chita sambil berlalu meninggalkan ruang OSIS dan meninggalkan Rio yang mematung dengan wajah penuh kecewa kaya' kucing kelaperan yang dapet ikan asin jumbo trus dicuri sama kucing laen.
“It's gonna be hard for you to get her,huh?!”, ledek Dion sambil menepuk bahu kawannya itu yang masih menyesali kepergian sang ikan asin,hehe.
“Jangan panggil gue Rio Pradana kalo gue ga bisa dapetin dia. Tunggu sampe dia rasain SPAGETTI CINTA bikinan gue..”, ucap Rio dengan pede dan sombongnya sambil terus mengamati Chita yang makin menghilang dari pandangan..
Paginya...
Pukul 09.00 bel tanda istirahat pertama berdering panjang. Rio buru-buru beranjak dari bangkunya keluar dari kelas setengah berlari kecil sambil menenteng sebuah box makan kecil menuju kelas 2A. Diambang pintu kelas 2A cowo itu celingukan..
“Kak Rio.. Cari siapa kak?”, sapa seorang cewe berambut ikal centil.
“Eh Tasya.. Mmmm ini.. Kamu liat Chita ga?”, sahut Rio sambil terus celingukan kanan kiri mengamati murid-murid yang berseliweran di dalam dan di luar kelas. Yang ditanya mengernyitkan keningnya..
“Chita?”, tanyanya meminta kepastian. Tepat pada saat itu mata Rio menangkap sosok cewe mungil yang dicarinya sedang duduk sendirian membaca buku di bangku taman sekolah. Secepat kilat cowo itu beranjak pergi dari kelas 2A sambil tak lupa mengucapkan makasih dengan ramah sama cewe tadi. Pelajaran paling penting dalam tehnik menghadapi cewe ala Rio.. Perlakukan cewe dengan manis dan lembut layaknya seorang Putri, maka lo pun akan menjadi Raja baginya, haha. (Dasar cowo bokis!).
“ Hey Chitta.. Lagi baca apa?”, tanya Rio manis sambil menempatkan diri duduk disamping Chitta yang kala itu lagi serius menekuni buku ditangannya ,
“Eh kak Rio.. Ini kak lagi baca buku nya Seno”, sahut Chitta setengah kaget.
“Oh ya? Kamu suka karya Seno juga?”, tanya Rio antusias, padahal boro-boro suka baca buku, Seno Gumira Ajidharma siapa aja dia ga tau. Maklum, selama ini waktunya hanya didedikasikan untuk buku-buku yang berbau culinary, khususnya yang membahas tentang spaghetti.
“Kakak juga suka buku-bukunya Seno?”, tanya Chitta berbinar-binar.
“Iya dong... Seno gitu loh..”, sahut Rio sok tau, maklumlah dia pengen kliatan smart didepan cewe incerannya, karena hasil investigasinya selama ini menunjukkan bahwa para cewe tu respek sama cowo yang pintar or at least berakting layaknya Mr.Know-All.
“Berarti kakak juga udah baca kumpulan cerpennya ini dong...”, ucap Chita sambil menunjukkan buku yang tadi lagi dibacanya.
“O..O..iya tentu.. Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta kan? udah katam bacanya,hehe...”, ucap Rio lagi sambil susah payah membaca judul yang tertera di buku itu. Chita mengangguk semangat.
“Kakak suka cerpen yang mana? Kalo aku suka yang judulnya Empat Adegan Ranjang.. Kok bisa yah, dua pasang suami istri bisa saling selingkuh sama pasangannya masing-masing... Jalan ceritanya asyik yah diikutin, lugas tapi sedikit vulgar..”, ucap Chita panjang lebar. Rio garuk-garuk kepala salting.. Secara nih anak sama sekali tentang dunia kesusasteraan baik manca maupun dalam negeri. Tapi sebagai seorang perayu handal bukan Rio namanya kalo ga punya segudang ide untuk mengakali situasi yang memojokkan dirinya. Secepat kilat direbutnya buku yang ada digenggaman Chita itu sambil membuka lembar demi lembarnya serampangan, sampai akhirnya..
“Nah.. ini nih Chit.. aku paling suka sama cerpen yang ini”, ucap Rio sambil menunjukkan sebuah judul cerpen di buku itu, Lelaki yang Terindah..
“Ceritanya aku suka banget... Aku ga habis pikir, kok bisa gitu Seno dengan indahnya menceritakan kekaguman seorang wanita pada kekasihnya..”, ucap Rio mantap dan sok tau (lagi..).
Chita mengernyitkan dahi dengan muka bingung..
“Kekaguman seorang wanita? Bukannya Lelaki yang Terindah tu bercerita tentang seorang gay yang posesif terhadap pasangannya lalu berbuat sadis, membunuh pasangannya dengan memotong kemaluannya karena selingkuh?”, ucap Chita membenarkan. Sejenak Rio bengong melompong kaya' sapi ompong ketiban kingkong dari hongkong, merasa malu setengah mati. Chita yang melihatnya tersenyum maklum, kemudian ucapnya,
“Tau ga kenapa aku suka karya-karya Seno?”.
Rio menggeleng, masih shock dengan kekeliruannya tadi, padahal selama ini dia belum pernah salah strategi dan merasa malu begini.
“Dalam dunia imaji Seno, ga ada istilah cinta sejati.. Semua jenis cinta itu busuk, palsu dan hasil manipulasi perasaan manusia aja... Makanya cerita-cerita Seno tentang cinta mesti ga jauh-jauh dari pengkhianatan dan kepalsuan, cinta bertepuk sebelah tangan dan cinta buta..”, terang Chita sambil matanya menerawang jauh ke depan.. Perut Rio makin mules dan mukanya makin pucat pasi, segala pembicaraan tentang sastra dan kroni-kroninya ini mulai membuatnya kliyeng-kliyeng puyeng.. Tapi Rio tak kehilangan akal, segera dibelokkannya arah pembicaraan mereka itu pada intinya, pada hal yang membuatnya menemui gadis itu..
“Hmm.. Iya-iya yang cita-citanya pengen jadi penulis handal..”, ledek Rio yang disambut tawa renyah Chita.
“Oiya.. Sebenernya aku tadi nyari kamu buat ngasih ini..”, ucap Rio lagi sambil menyodorkan sekotak tempat makan pada Chita.
“Waah.. Spagetti...”, serunya riang.
“Itu spagetti spesial bikinan aku loh.. khusus dibuat dengan penuh cita rasa buat cewe semanis kamu.. kan kemaren kamu ga bisa ikut ke rumah ku pas kita kumpul bahas mading, makanya hari ini khusus aku buatin dan aku bawain buat ..”, timpal Rio setengah merayu. Chita tersenyum kecil mendengarnya, tertegun ia memandangi helai2 spagetti didepannya.
“Woyyy... malah bengong.. Ayo dimakan dong.. Rasain dong spagetti bikinan aku..”, seru Rio membuyarkan lamunan cewe itu.
“I..Iya.. Pasti spagetti buatan kak Rio enak deh.. Hmm...”, sahut Chitta sambil menghirup dalam-dalam aroma spagetti Rio. Rio tersenyum ge-er. Namun sedetik kemudian tiba-tiba muka Chita berubah keruh..
“Eh... kamu kenapa?”, tanya Rio heran. Kalo dibilang ga suka sama spagetti bikinannya ga mungkin ah, secara Chita belum menyantap sedikitpun spagetti bikinannya itu.
“Aku inget sama oma kak.. Biasanya kita sering bikin spagetti bareng juga..”, ucap Chita sedih, matanya berkaca-kaca.
“Emang oma kamu ada dimana?”, tanya Rio ingin tahu.
“Di Bandung.. Chita kangen banget sama oma..”, sahut Chita getir, air matanya menetes, menangis tanpa suara..
“Jangan sedih dong.. Tar kalo liburan kan kamu bisa jenguk oma? Ato omanya aja yang disuruh kesini jengukin kamu..”, ucap Rio mencoba menenangkan. Entah kenapa Rio merasa sangat iba melihat gadis didepannya itu menangis sedih. Tepat disaat kedua makhluk itu terlarut dalam kesedihan (Rio ikutan sedih ngeliat targetnya merana kaya' gitu) bel tanda masuk berdering nyaring mengakhiri jam istirahat siang itu. Chita menghapus air matanya seraya beranjak dari bangku taman, sikapnya itu diikuti oleh Rio.
“Udah bel masuk kak.. Aku masuk kelas dulu ya.. Makasih banget buat spagettinya..”, pamit Chita ceria sambil mengayunkan box makanan tadi dan berlalu dari hadapan Rio.
“ Oya.. Jangan lupa.. Cherish those you love 'cuz you only get one life to spend it with them..”, ucap Chita lagi penuh makna sebelum kemudian menghilang masuk kelas.
Busyet ni anak bisa segitu cepetnya berubah mood begitu.. bukannya tadi dia lagi sedih, batin Rio terheran-heran. Walo begitu, dia cukup senang melihat Chita bisa ceria lagi meskipun dia belum sempat melihat dengan mata kepala sendiri Chita menyantap spagetti cintanya dan memberikan pujian . (Dasar narses!).
Malamnya di rumah Rio..
Rio lagi meni pedi manual sambil maen PS 3 favoritnya (lohh emang bisa meni pedi sambil PS an?? hehe) ketika Bara pulang dari rumah temannya malam itu. Maklum,sebagai sosok yang cukup populer di sekolahnya segala aspek yang menunjang penampilannya di depan publik harus diperhatikan secara seksama oleh cowo satu ini, terutama soal kebersihan (selain terus mengembangkan inovasi-inovasi terbaru dalam membuat spagetti andalan tentunya).
“I'm home..”, ucap Bara seraya menghempaskan sebuah buku kecil diatas meja.
“Wah cakep juga lo bang pake baju koko kaya gitu, tapi kok ga ada cewe yang mau yah, hehehe..”, ledek Rio.
“Lo ga capek apa selalu narsis sm ledekin orang mulu?? Gue aja yang denger capek tau!”, sahut Bara kesel. Rio cuma menimpalinya dengan cengengesan seperti biasa.
“Abang darimana si? Abis kasi khotbah dimana bang haji?”, ucap Rio lagi melucu.
“Gue kan udah bilang kemaren, hari ini tahlilan 7 harinya adeknya Ragil”, sahut Bara sambil menghela nafas dan melonggarkan kerah bajunya.
“Oo.. Adek bang Ragil cewe ato cowo bang? Meninggal kenapa?”, tanyanya lagi ingin tahu.
“Kenape?? udah almarhumah mau lo embat juga?”, timpal Bara sambil beranjak menuju dapur mencari segelas aer putih dingin, ini kebiasaan Bara kalo udah mulai kesel sama adeknya: segera menyingkir dan cooling down dengan segelas aer putih dingin.
“Yee, emang gue makhluk halus nyari cewe dari bangsa jin?? ya ga lah.. cuma pengen tau aja, gue masi penasaran kok bisa gue ga tau Bang Ragil punya adek”, balas Rio sewot.
“Adek si Ragil cewe, meninggal karena kecelakaan tunggal pas mau berangkat sekolah”, ucap Bara setengah teriak dari dapur.
“Oya gue baru inget, dia pindah sekolah ke SMU Merdeka.. Masa lo ga tau?”, sambungnya lagi seraya menghampiri Rio dengan segelas aer putih dingin di tangannya. Rio mengernyitkan keningnya.
“Pindah??”, tanyanya singkat.
“Iya. Sejak kecil dia tinggal sama neneknya di Bandung, tapi karena bentar lagi masuk kuliah dia diminta tinggal sama ortunya di Jakarta trus pindah ke sekolah lo itu. Gitu sih yang gue denger dari Ragil”, jelas Bara panjang lebar.
“Ooo pantesan gue ga pernah tau bang Ragil punya adek.. Bukan salah gue dong,hehe..”, sahut Rio ngeles.
“Tunggu tunggu.. Pindah ke SMU gue?? Prasaan gue kenal hampir semua siswa di SMU Merdeka, apalagi siswi-siswinya.. Secara yah.. Lo tau sendiri gimana reputasi gue di sekolah..”, ucap Rio lagi yang kontan bikin Bara hampir memuntahkan lagi aer putih dingin yang uda ditenggaknya tadi. Ampun ampun narsisnya nih bocah, batinnya.
“Iya iya gue tau reputasi lo di sekolah. Player Spagetti!”, ucap Bara ketus yang disambut tawa ngakak adeknya tanpa dosa.
“Emang adeknya bang Ragil namanya siapa bang?”, tanyanya kemudian.
“Tuh liat aja di buku Yaasin, ada potonya juga sapa tau pernah jadi korban spagetti rasa buaya lo”, sahut Bara cuek. Rio tersenyum kecil mendengarnya. Diraihnya buku kecil yang tergeletak diatas meja itu. Di halaman pertama buku itu terpampang foto cewe yang sangat dikenalnya selama beberapa hari ini dan menjadi target barunya..
“Tahlilan 7 hari... E.. Echita Ka.. Kahayangan Pu.. Putri..”, ucap Rio terbata dengan muka pucat pasi seraya mendongakkan kepala pelan-pelan, melihat Bara yang berdiri didepannya, meminum aer putih dinginnya sampai tandas...
*******
“Cherish those u love n make them feel so special cuz u only get one life to spend it with them,,,,,”
Jogja, 08 08 '08
-SHA-

puisi: veteran cinta

VETERAN CINTA

Akhirnya aku sampai di titik ini..
titik dimana semua awal menjadi akhir
titik dimana aku lelah untuk terus berlari
dan takluk pada takdir..
Aku bukan pecundang..
tidak datang untuk perang ..
Memerangi apa?? Memenangkan apa??
Untuk siapa?? Untuk apa??
Tidak ada perang, tidak ada kemenangan
Karena sepertinya tidak untuk kita..
Memerangi hatimu kah?
Aahh.. aku lelah
Biar saja aku kalah
Ku biarkan kau sedikit pongah
Dengan hatimu yang melatah
Dan jiwaku yang berbantah


Middle May, 2008
As the cricket sings
-farida choirunisa-

puisi: pupus

Pupus..
Kaki memijak raga melayang,
setapak lengang tak berbayang,
membentang angan dihadapan,
aku merasa apa dirasa,
rasa yang tertinggal dalam
asa remuk redam..

awal bulan tiga '08
-farida choirunisa-

puisi: sajak biduan

Sajak Biduan..
Malam itu aku duduk termangu,
meretas kasihku tersayat sembilu,
lalu angin sayup-sayup mengajakku berdansa,
dengan alunan simfoni antah berantah,
alunannya lembut mendayu-dayu,
halus menyentuh kalbu..

Jogja, may ‘08
-farida choirunisa-

puisi: de Javu

de Javu...

Aku menyayangimu..
amat sangat menginginkanmu..
terlalu dalam perasaan itu hingga aku harus mengambil keputusan
untuk mengakhiri semua..
Perih ini terlalu menyesak hingga membangunkanku dari mimpi
mimpi indah bersamamu...
dan kini ketika aku tersadar..
tak ada kamu dan aku,
hanya ada aku dan sisa mimpiku..
kamu berada dalam dimensi lain,
tak tersentuh..
tak terengkuh..
Disana jelas terlihat
kau berusaha merangkai kembali mimpi-mimpi usangmu,
namun bukan denganku..
lalu, dimana kau tempatkan aku?

Awal agustus '08
-farida choirunisa-

cerpen: KUTUKAN SIMBOK

 Kutukan Simbok
OLEH: FARIDA CHOIRUNISA
 
   “Maafkan simbok,le…,maafkan…,maafkan simbok…,” ucap Simbok berulang-ulang sebelum akhirnya tertidur dan entah untuk berapa lama atau mungkin selamanya.Kuamati lekat-lekat wajahnya yang tua dan lelah, kutelusuri lekuk-lekuk dan keriput yang menghiasi wajahnya. Pak Mantri datang tergesa-gesa dan segera memeriksa nadi Simbok.
 
   “Innalillahi wa ina ilaihi rojiun,” ucapnya lirih dengan raut prihatin. Sejenak aku tercengang, namun segera kusadari inilah saatnya Simbok kembali pada-Nya. Ah… Simbokku yang renta, betapa ia telah menempa dan menjadikannya seorang yang kritis dalam menjalani hidup, dia selalu menginginkan yang terbaik untukku, untuk Jarot, anak satu-satunya. Apalagi setelah Bapak meninggal, seolah-olah seluruh hidup Simbok hanya dibaktikan padaku.
 
   “Tidak..!!! Simbok tidak setuju kalau kamu melamar Banowati sebagai istrimu, dia tidak pantas menjadi istri orang Jawa tulen seperti kita, Le…,” kata simbok ketus tatkala kuutarakan niatku untuk melamar Dara.
 
    Menurut simbok, Dara bukanlah seorang wanita yang baik, dia tidak tau unggah-ungguh dan tata karma menghormati orang yang lebih tua, apalagi kepadaku, calon suaminya. Hanya karena Dara sering melontarkan ide-idenya secara ekstrem dan berani mengungkapkan apa yang tidak dia suka, bahkan tak segan pula dia mengajak berdebat tentang hal-hal yang paling sensitive sekalipun dengan orang yang lebih tua.
 
     Dara hanyalah pencipta seni yang menikmati hidup dengan perannya dipanggung dan berlembar-lembar puisi ciptaannya. Tapi itulah Dara, gadis yang telah memikat hatiku,bagiku Dara adalah sosok wanita  moderen yang pantas dibanggakan, dia punya dunianya sendiri, dunia yang ia pegang dan ia kuasai tanpa boleh seorangpun mendiktenya, sekalipun ayah atau ibunya. Dara punya semangat dan gairah hidup serta cita-cita yang mengagumkan, itulah yang membuatnya selalu terlihat menarik didepanku.
 
     Dara jelas berbeda dengan Sumilah, gadis desa yang disebut-sebut simbok sebagai wanita yang sempurna, dia masih kerabat jauh kami. Bertolak belakang dengan Dara, Sumilah merupakan figur gadis Jawa tulen yang halus tingkah dan wicaranya, agak pemalu dan pendiam. Dia cenderung mengabdikan hidup untuk keluarga,  seperti Simbok juga. Sikapnya yang malu-malu membut aku semakin sulit dan enggan berkomunikasi dengannya. Dia tak bias kuajak berdebat tentang kacaunya negeri ini karena tingkah para birokratnya.
 
     “Terserah Mas Jarot saja, saya manut,” ujarnya suatu ketika saat kuminta pendapatnya tentang nasib anak-anak bangsa yang mungkin akan tergadai dimasa datang.
 
     Tidak, bagiku Dara tetap sosok wanita idaman. Hanya saja setelah percakapan saya dengan Simbok tempo hari, hari-hari kami selalu diwarnai pertengkaran, segala argumentasi yang kusodorkan untuk mengetuk hati Simbok sia-sia belaka. Beliau tetap tidak mau merestui hubungan kami.
 
     “Keputusan saya sudah final, Mbok! Sudah manteb, saya ingin membangun rumah tangga bersama gadis pilihan saya, Dara, entah Simbok setuju atau tidak…,” ucapku sore itu dengan berat. Tampak Simbok terkejut mendengar perkataan tadi.
 
     “Dipikir yang mateng dulu, Le…”
 
     “Sudah Mbok, saya bener-bener sudah mateng!”
 
     “Le, Banowati itu bukan calon istri dan calon ibu yang baik buat anak-anakmu kelak, dia tidak tau sopan-santun apalagi tata karma kejawen.”
 
     “Kenapa Simbok begitu anti pada gadis macam Dara, Mbok? Saya tau dia itu gadis baik, hanya pikirannya saja yang terlalu modern! Tapi kan zaman sudah berubah, Mbok!”
 
     “Le, yang namanya zaman boleh berubah, tapi budaya kita, budaya kejawen kita yang luhur itu harus tetap lestari!”
 
     “Sudahlah Mbok, saya capek mempersoalkan ini terus. Pokoknya bulan depan kami menikah, dirumah Demangan sana. Terserah Simbok mau datang atau tidak!” Mata Simbok mulai berkaca-kaca mendengar ucapanku yang ketus itu. Dan ia kemudian menangis sedih.
 
     “Oalah Le, cilik diitik=itik, dibiayai, dibesarkan dengan susah payah sampai jadi uwong, jadi orang terpelajar, jadi Dosen. Inikah balasan untuk simbokmu, Le…”.
 
     Aku tercengung mendengar ucapannya. Mengapa semua orang tua selalu mengungkit alur hidup anaknya ketika terjadi perselisihan? Tidak tuluskah mereka? Ah, tidak! Simbokku sosok ibu sempurna, ucapan yang keluar dari hati terdalamnya itu pastilah hanya demi kebaikan anaknya, kebaikanku.
 
    “Aku ingin cerai!!” gugat Dara setelah sekian lama kularang agar tidak terlalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan seninya.
 
     “Dara, semua ini demi kesehtanmu dan calon anak kita, ingat ucapan dokter Hadi tentang kondisi kandunganmu,” kataku agak keras. Kulihat dimatanya tersimpan sejuta argumen yang siap dilontarkan padaku. “Lagipula, gajiku sebgai Dosen tetap kan  sudah lebih dari cukup untuk membiayai rumah tangga kita?” kataku menyambung.
 
     “Bukan uang yang kucari!!” timpal Dara ketus.
 
     “Lalu apa? Popularitas? Ah…nonsense belaka.”
 
    “Kau memang tidak pernah mengerti duniaku, pikiranmu masih penuh falsafah-falsafah Jawa kuna yang tidak sesuai dengan cara hidup sekarang!” balas Dara berapi-api. Aku terdiam, kucoba resapi kata-katanya tadi. Benarkah aku seperti itu?
 
     Yah…akhirnya kami memang menikah tanpa restu  simbok. Awal pernikahan kami begitu manis, semua berjalan seperti impian. Tapi setahun kemudian mahligai kami terasa bagai neraka. Ternyata kami masih sama-sama egois, terlalu sibuk pada ambisi masing-masing, hingga lupa akan sisi lain dari kehidupan kami. Dan Dara sendiri semakin tak terkendali, dia selalu menuruti kehendaknya sendiri tanpa pernah minta pertimbangan suaminya. Dara bagai kuda liar, dan aku sebagai jokinya tak mampu mengendalikannya. Kadang-kadang aku merasa gagal sebagai kepala rumah tangga, kadang-kadang pula aku merasakan ini semua sebagai kutukan Simbok atas pembelotanku. Dulu Simbok memang pernah berujar, “Le, kelak perkawinanmu tak akan tenteram, karena simbok tak merestui kalian…”. Waktu itu simbok tak begitu kugubris, namun sekarang barulah kurasakan benarnya.
 
      Termangu aku duduk dipelataran depan mengamati orang-orang berlalu lalang, sibuk membenahi dan menata kursi-kursi untuk pelayat dan mendirikan terpal tenda. Di saat seperti inilah aku benar-benar merasa terasing dan sendiri, kusadari kini aku tak punya siapa-siapa lagi. Bapak terlebih dulu berpulang saat aku masih kecil dan membutuhkan kehadirannya. Kemudian Dara, istri yang sangat kucintai meninggalkanku untuk selamanya, dia kehabisan banyak darah karena blooding yang begitu hebat saat melahirkan Gertak.
 
      Ya…aku tak sendirian aku masih memiliki Gertak, anakku satu-satunya. Kasihan anak itu, dia takkan pernah mengenal ibunya, itu sebabnya dia aku beri nama gertak. Aku ingin dia mewarisi sifat-sifat ibunya yang pemberani. Gertak sudah sangat prihatin sejak kecil, dia lahir tanpa restu embah putrinya, dia juga lahir sebelum waktunya, dokter Hadi bilang premature dan kini ia harus tumbuh tanpa kasih ibunya.
 
      Kekawatiranku pada Dara ternyata terbukti, dia mengalami kecelakaan kecil saat mengikuti pementasan drama. Dan kini Simbok pun meninggalkan anak yang tak tau diri dan pembangkang ini. Ah…seandainya kuturuti kata-kata simbok dulu, pasti semua ini akan terjadi, Dara dan aku tak akan tersiksa dalam perkawinan kami dan Simbok takkan kecewa dan sakit-sakitan karena terlalu dalam memikirkan aku.
 
      Simbok pergi sebelum sempat menimang cucunya dan membantuku membesarkan Gertak agar menjadi anak yang berbakti, tidak seperti bapaknya. Ucapan maaf Simbok diakhir hayatnya tadi terngiang, seharusnya aku yang meminta maaf, bukan sebaliknya. Simbok memang wanita sempurna setidaknya bagiku, bahkan diakhir hidupnya pun dia masih sempat menyesali kekeliruannya. Aku tau simbok merasa bersalah karena telah mengutukku berrsama Dara dulu.
 
      Para pelayat mengucapkan bela sungkawa pada keluarga kami. “Kami turut berduka Nak Jarot,” ujar Pakdhe Tono, ayah Sumilah yang sudah datang sejak kemarin sore. Aku tersenyum kecil mendengarnya, ah… begitu cepat simbok pergi meninggalkan anak yang masih butuh bibimbingan dalam mengarungi hidup ini.
 
      Sekilas kulihat jenazah Simbok yang telah dikafani, begitu bersih dan ayu, anganku kembali pada masa kanak-kanak yang indah dalam asuhan simbok yang penuh kasih. Tak terasa air mataku menetes, segera kualihkan pandangan kehalaman depan. Oh… disana, dibawah pohon melinjo yang rindang dan cukup tua itu, Sumilah sedang menimang Gertak, mencoba meredakan tangisnya, sayup-sayup Sumilah nembang, “Gambang Suling kemandang swarane…”. dan kulihat Gertak mulai menikmati buaian Sumilah.
 
      Simbok…ya…aku melihat simbok menimang bayi dan nembang…aku melihatnya. Aku melihat simbok dalam diri Sumilah.

(Termuat dalam Antologi Cerpen Bengkel Sastra Indonesia "Sekuntum Mawar Merah untuk Abimanyu, 2002, terbitan Balai Bahasa Yogyakarta)

LIFE IS A PROCESS OF LEARNING

LIFE IS A PROCESS OF LEARNING

Apa yang disebut dengan proses pembelajaran adalah proses dimana kita mengalami banyak hal kompleks yang bahkan kita sendiri sebenarnya tidak menginginkannya.
Proses pembelajaran itu sendiri terkadang sangat pahit dan menyakitkan, namun itulah esensi dari sebuah “proses”. Pengalaman, entah itu baik atau buruk adalah guru dari segala maha guru, karena pengalaman itu seperti cermin atas apa yang sudah kita lakukan. Ketika kita bertindak tanpa berpikir, kita tidak tahu result dari apa yang sudah kita lakukan. Kita terus tenggelam dan terbuai dalam perasaan yang kita alami tanpa tahu apa sebenarnya yang sedang kita lakukan. Entah itu berguna atau tak berguna, entah baik atau buruk. Dan ketika kita tersadar. Perasaan yang indah itu akan berubah jadi monster yang siap menerkam dan melumatkan kita. Monster yang muncul dan berkembang dari buah pikiran kita sendiri, dari hal bodoh yang kita lakukan di masa lalu. Ketika itu terjadi kita akan merasa menjadi orang yang tolol dan tak berguna, kita akan mulai menyesal, tenggelam dalam kesedihan dan berharap semua tidak pernah terjadi. Sebagian dari kita mungkin akan mengalaminya selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Lalu bagaimana? Kalau kita masih punya akal sehat untuk berpikir dengan bijak dan logis kita pasti takkan pernah mengalaminya. Karena semua hal yang kita alami, yang terburuk sekalipun adalah pengalaman hidup, bagian dari proses pembelajaran yang HARUS kita dan semua orang lalui. Kalau kita tidak pernah terjatuh, kita tidak akan pernah tahu rasanya sakit. Kalau kita tidak pernah merasakan sakit, kita tidak akan mensyukuri ketika kita sehat. Kalau kita tidak pernah gagal, kita tidak akan pernah tahu apa arti kesuksesan yang kita raih. Jadi sepahit apapun hal yang kita alami dalam hidup, jangan pernah menyerah. Anggap semua pengalaman, baik atau buruk sebagai guru untuk menjadi lebih baik, menjadi penopang kita untuk meraih mimpi. Mungkin saat ini Tuhan sedang mengasahmu untuk menjadi mata pisau yang tajam, yang mampu melihat masalah bukan sebagai beban melainkan kesempatan untuk jadi lebih dewasa.

May'08
sha

Welcome to my Blog:)

Welcome to my Blog:)
I had a little story ..
Once, i asked by an old lady when i was going to a funeral with my Granny, "Can you describe yourself?"
"Well,I'm just an ordinary girl with an extraordinary mind, I think..", I answered.
Then she asked me what is my biggest ambition. I told her that I had interest in writing and I wanted to be one of the biggest writers someday, that I wanted to publish my own bestseller book (could I??).
She smiled to me and asked, "Have you done then?".
This conversation is very inspiring me n my dreams of being a writer is haunting me also. And those are the reasons why I create this blog as my first step to share my idea to people through my works. Why it's called Whisper of Silence? Because I want people feel my works with sincere..
No need to scream out! No yelling! Just whispering what I had on my mind n let people hear n feel it by heart..
I hope what I have wrote in this blog can touch people deep inside, or even inspiring people.
So.. Let's start whisper..