Sunday, October 12, 2008

cerpen: KUTUKAN SIMBOK

 Kutukan Simbok
OLEH: FARIDA CHOIRUNISA
 
   “Maafkan simbok,le…,maafkan…,maafkan simbok…,” ucap Simbok berulang-ulang sebelum akhirnya tertidur dan entah untuk berapa lama atau mungkin selamanya.Kuamati lekat-lekat wajahnya yang tua dan lelah, kutelusuri lekuk-lekuk dan keriput yang menghiasi wajahnya. Pak Mantri datang tergesa-gesa dan segera memeriksa nadi Simbok.
 
   “Innalillahi wa ina ilaihi rojiun,” ucapnya lirih dengan raut prihatin. Sejenak aku tercengang, namun segera kusadari inilah saatnya Simbok kembali pada-Nya. Ah… Simbokku yang renta, betapa ia telah menempa dan menjadikannya seorang yang kritis dalam menjalani hidup, dia selalu menginginkan yang terbaik untukku, untuk Jarot, anak satu-satunya. Apalagi setelah Bapak meninggal, seolah-olah seluruh hidup Simbok hanya dibaktikan padaku.
 
   “Tidak..!!! Simbok tidak setuju kalau kamu melamar Banowati sebagai istrimu, dia tidak pantas menjadi istri orang Jawa tulen seperti kita, Le…,” kata simbok ketus tatkala kuutarakan niatku untuk melamar Dara.
 
    Menurut simbok, Dara bukanlah seorang wanita yang baik, dia tidak tau unggah-ungguh dan tata karma menghormati orang yang lebih tua, apalagi kepadaku, calon suaminya. Hanya karena Dara sering melontarkan ide-idenya secara ekstrem dan berani mengungkapkan apa yang tidak dia suka, bahkan tak segan pula dia mengajak berdebat tentang hal-hal yang paling sensitive sekalipun dengan orang yang lebih tua.
 
     Dara hanyalah pencipta seni yang menikmati hidup dengan perannya dipanggung dan berlembar-lembar puisi ciptaannya. Tapi itulah Dara, gadis yang telah memikat hatiku,bagiku Dara adalah sosok wanita  moderen yang pantas dibanggakan, dia punya dunianya sendiri, dunia yang ia pegang dan ia kuasai tanpa boleh seorangpun mendiktenya, sekalipun ayah atau ibunya. Dara punya semangat dan gairah hidup serta cita-cita yang mengagumkan, itulah yang membuatnya selalu terlihat menarik didepanku.
 
     Dara jelas berbeda dengan Sumilah, gadis desa yang disebut-sebut simbok sebagai wanita yang sempurna, dia masih kerabat jauh kami. Bertolak belakang dengan Dara, Sumilah merupakan figur gadis Jawa tulen yang halus tingkah dan wicaranya, agak pemalu dan pendiam. Dia cenderung mengabdikan hidup untuk keluarga,  seperti Simbok juga. Sikapnya yang malu-malu membut aku semakin sulit dan enggan berkomunikasi dengannya. Dia tak bias kuajak berdebat tentang kacaunya negeri ini karena tingkah para birokratnya.
 
     “Terserah Mas Jarot saja, saya manut,” ujarnya suatu ketika saat kuminta pendapatnya tentang nasib anak-anak bangsa yang mungkin akan tergadai dimasa datang.
 
     Tidak, bagiku Dara tetap sosok wanita idaman. Hanya saja setelah percakapan saya dengan Simbok tempo hari, hari-hari kami selalu diwarnai pertengkaran, segala argumentasi yang kusodorkan untuk mengetuk hati Simbok sia-sia belaka. Beliau tetap tidak mau merestui hubungan kami.
 
     “Keputusan saya sudah final, Mbok! Sudah manteb, saya ingin membangun rumah tangga bersama gadis pilihan saya, Dara, entah Simbok setuju atau tidak…,” ucapku sore itu dengan berat. Tampak Simbok terkejut mendengar perkataan tadi.
 
     “Dipikir yang mateng dulu, Le…”
 
     “Sudah Mbok, saya bener-bener sudah mateng!”
 
     “Le, Banowati itu bukan calon istri dan calon ibu yang baik buat anak-anakmu kelak, dia tidak tau sopan-santun apalagi tata karma kejawen.”
 
     “Kenapa Simbok begitu anti pada gadis macam Dara, Mbok? Saya tau dia itu gadis baik, hanya pikirannya saja yang terlalu modern! Tapi kan zaman sudah berubah, Mbok!”
 
     “Le, yang namanya zaman boleh berubah, tapi budaya kita, budaya kejawen kita yang luhur itu harus tetap lestari!”
 
     “Sudahlah Mbok, saya capek mempersoalkan ini terus. Pokoknya bulan depan kami menikah, dirumah Demangan sana. Terserah Simbok mau datang atau tidak!” Mata Simbok mulai berkaca-kaca mendengar ucapanku yang ketus itu. Dan ia kemudian menangis sedih.
 
     “Oalah Le, cilik diitik=itik, dibiayai, dibesarkan dengan susah payah sampai jadi uwong, jadi orang terpelajar, jadi Dosen. Inikah balasan untuk simbokmu, Le…”.
 
     Aku tercengung mendengar ucapannya. Mengapa semua orang tua selalu mengungkit alur hidup anaknya ketika terjadi perselisihan? Tidak tuluskah mereka? Ah, tidak! Simbokku sosok ibu sempurna, ucapan yang keluar dari hati terdalamnya itu pastilah hanya demi kebaikan anaknya, kebaikanku.
 
    “Aku ingin cerai!!” gugat Dara setelah sekian lama kularang agar tidak terlalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan seninya.
 
     “Dara, semua ini demi kesehtanmu dan calon anak kita, ingat ucapan dokter Hadi tentang kondisi kandunganmu,” kataku agak keras. Kulihat dimatanya tersimpan sejuta argumen yang siap dilontarkan padaku. “Lagipula, gajiku sebgai Dosen tetap kan  sudah lebih dari cukup untuk membiayai rumah tangga kita?” kataku menyambung.
 
     “Bukan uang yang kucari!!” timpal Dara ketus.
 
     “Lalu apa? Popularitas? Ah…nonsense belaka.”
 
    “Kau memang tidak pernah mengerti duniaku, pikiranmu masih penuh falsafah-falsafah Jawa kuna yang tidak sesuai dengan cara hidup sekarang!” balas Dara berapi-api. Aku terdiam, kucoba resapi kata-katanya tadi. Benarkah aku seperti itu?
 
     Yah…akhirnya kami memang menikah tanpa restu  simbok. Awal pernikahan kami begitu manis, semua berjalan seperti impian. Tapi setahun kemudian mahligai kami terasa bagai neraka. Ternyata kami masih sama-sama egois, terlalu sibuk pada ambisi masing-masing, hingga lupa akan sisi lain dari kehidupan kami. Dan Dara sendiri semakin tak terkendali, dia selalu menuruti kehendaknya sendiri tanpa pernah minta pertimbangan suaminya. Dara bagai kuda liar, dan aku sebagai jokinya tak mampu mengendalikannya. Kadang-kadang aku merasa gagal sebagai kepala rumah tangga, kadang-kadang pula aku merasakan ini semua sebagai kutukan Simbok atas pembelotanku. Dulu Simbok memang pernah berujar, “Le, kelak perkawinanmu tak akan tenteram, karena simbok tak merestui kalian…”. Waktu itu simbok tak begitu kugubris, namun sekarang barulah kurasakan benarnya.
 
      Termangu aku duduk dipelataran depan mengamati orang-orang berlalu lalang, sibuk membenahi dan menata kursi-kursi untuk pelayat dan mendirikan terpal tenda. Di saat seperti inilah aku benar-benar merasa terasing dan sendiri, kusadari kini aku tak punya siapa-siapa lagi. Bapak terlebih dulu berpulang saat aku masih kecil dan membutuhkan kehadirannya. Kemudian Dara, istri yang sangat kucintai meninggalkanku untuk selamanya, dia kehabisan banyak darah karena blooding yang begitu hebat saat melahirkan Gertak.
 
      Ya…aku tak sendirian aku masih memiliki Gertak, anakku satu-satunya. Kasihan anak itu, dia takkan pernah mengenal ibunya, itu sebabnya dia aku beri nama gertak. Aku ingin dia mewarisi sifat-sifat ibunya yang pemberani. Gertak sudah sangat prihatin sejak kecil, dia lahir tanpa restu embah putrinya, dia juga lahir sebelum waktunya, dokter Hadi bilang premature dan kini ia harus tumbuh tanpa kasih ibunya.
 
      Kekawatiranku pada Dara ternyata terbukti, dia mengalami kecelakaan kecil saat mengikuti pementasan drama. Dan kini Simbok pun meninggalkan anak yang tak tau diri dan pembangkang ini. Ah…seandainya kuturuti kata-kata simbok dulu, pasti semua ini akan terjadi, Dara dan aku tak akan tersiksa dalam perkawinan kami dan Simbok takkan kecewa dan sakit-sakitan karena terlalu dalam memikirkan aku.
 
      Simbok pergi sebelum sempat menimang cucunya dan membantuku membesarkan Gertak agar menjadi anak yang berbakti, tidak seperti bapaknya. Ucapan maaf Simbok diakhir hayatnya tadi terngiang, seharusnya aku yang meminta maaf, bukan sebaliknya. Simbok memang wanita sempurna setidaknya bagiku, bahkan diakhir hidupnya pun dia masih sempat menyesali kekeliruannya. Aku tau simbok merasa bersalah karena telah mengutukku berrsama Dara dulu.
 
      Para pelayat mengucapkan bela sungkawa pada keluarga kami. “Kami turut berduka Nak Jarot,” ujar Pakdhe Tono, ayah Sumilah yang sudah datang sejak kemarin sore. Aku tersenyum kecil mendengarnya, ah… begitu cepat simbok pergi meninggalkan anak yang masih butuh bibimbingan dalam mengarungi hidup ini.
 
      Sekilas kulihat jenazah Simbok yang telah dikafani, begitu bersih dan ayu, anganku kembali pada masa kanak-kanak yang indah dalam asuhan simbok yang penuh kasih. Tak terasa air mataku menetes, segera kualihkan pandangan kehalaman depan. Oh… disana, dibawah pohon melinjo yang rindang dan cukup tua itu, Sumilah sedang menimang Gertak, mencoba meredakan tangisnya, sayup-sayup Sumilah nembang, “Gambang Suling kemandang swarane…”. dan kulihat Gertak mulai menikmati buaian Sumilah.
 
      Simbok…ya…aku melihat simbok menimang bayi dan nembang…aku melihatnya. Aku melihat simbok dalam diri Sumilah.

(Termuat dalam Antologi Cerpen Bengkel Sastra Indonesia "Sekuntum Mawar Merah untuk Abimanyu, 2002, terbitan Balai Bahasa Yogyakarta)

No comments: